Banda Aceh, 19 April 2006 - Krueng Kala - desa yang terletak di kecamatan Lhoong kabupaten Aceh Besar kini tidak lagi dalam kegelapan. Baik kegelapan dalam arti sebenarnya karena tiadanya listrik, maupun kegelapan hidup akibat badai tsunami.
Setelah melalui masa persiapan, perencanaan, dan pembangunan selama kurang dari satu tahun, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) pertama di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) hari ini diresmikan penggunaannya. Peresmian dilakukan oleh Sekretaris Badan Rekonstruksi dan Revitalisasi (BRR) NAD-Nias, Ramli Ibrahim, dan dihadiri oleh pejabat pemerintahan NAD, perwakilan dari PT Coca-Cola Indonesia, Yayasan IBEKA (Institut Bisnis Ekonomi dan Kerakyatan), Yayasan Nurani Dunia serta undangan lainnya.
“Peresmian ini menandai dimulainya era baru bagi sekitar 200 Kepala Keluarga di Desa Krueng Kala, karena mulai hari ini mereka sudah bisa menikmati infrastruktur listrik yang tidak dapat mereka nikmati sejak bencana tsunami di akhir tahun 2004. Dioperasikannya PLTMH berkekuatan 40 kW ini diharapkan akan mempercepat proses kebangkitan kembali kehidupan serta perekonomian masyarakat di wilayah ini,“ kata Ramli Ibrahim.
Pembangunan PLMTH ini merupakan sumbangan dari PT Coca-Cola Indonesia yang bermitra dengan Yayasan Nurani Dunia dan Yayasan IBEKA.
“Proyek pembangunan PLMTH ini merupakan bagian dari sumbangsih PT Coca-Cola Indonesia dalam membantu upaya pemulihan Aceh paska bencana tsunami. Selain pembangunan PLMTH ini, Coca-Cola juga membantu pembangunan sekolah modular, sekolah permanen, dan beberapa kegiatan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat“, kata Titie Sadarini, Corporate Affairs Director, PT Coca-Cola Indonesia.
“Selain dinikmati sekitar 200 rumah tangga, aliran listrik ini juga dimanfaatkan untuk penerangan bangunan-bangunan sosial, seperti sekolah dan masjid. Tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, PLTMH adalah salah satu potensi lokal yang diharapkan menjadi pintu masuk untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik di bidang ekonomi, sosial, politik maupun budaya“, kata Tri Mumpuni dari yayasan IBEKA.
Seperti terjadi di hampir seluruh NAD, bencana tsunami di akhir 2004 lalu telah menghancurkan seluruh infrastruktur termasuk jaringan listrik, serta menewaskan sebagian besar penduduk Krueng Kala. Saat ini, penghuni Krueng Kala adalah warga dari desa-desa sekitar yang selamat dari tsunami.
Untuk mencapai fungsi ideal tersebut, maka penglibatan masyarakat lokal (termasuk di dalamnya tokoh-tokoh agama) telah dimulai sejak awal. Mulai dari survei lokasi, perencanaan sampai pembangunan PLTMH ini. Penglibatan masyarakat sejak awal, selain agar masyarakat betul-betul paham dengan pengoperasian PLTMH (khusus operator lokal), juga dimaksudkan untuk menumbuhkan dan menguatkan kesadaran masyarakat, yaitu kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan yang terkait dengan ketersediaan air Sungai Krueng Kala, yang merupakan sumber tenaga untuk pembangkit.
Selanjutnya, pengelolaan PLTMH ini akan dilakukan oleh “Koperasi Tuah Krueng Kala Sejahtera”. Diharapkan lembaga masyarakat yang seluruh pengurusnya merupakan warga lokal ini dapat mengelola keberlanjutan PLTMH, antara lain dengan pengelolaan iuran listrik secara transparan dan bertanggungjawab.
Tentang Coca-Cola
Coca-Cola telah hadir dan diproduksi secara lokal di Indonesia sejak tahun 1932. Saat ini ada 17 pabrik pembotolan Coca-Cola di seluruh Indonesia yang mempekerjakan sekitar 10.000 karyawan dan melayani secara langsung lebih dari 400.000 pedagang. Perusahaan Coca-Cola selain berkiprah dalam dunia usaha dan penciptaan lapangan kerja juga aktif melakukan kegiatan sosial di Indonesia, baik secara langsung maupun melalui Yayasan Coca-Cola Foundation Indonesia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment